Da Mutos go to hajj 13

Best Part Of Hajj, SILATURAHIM

qadarullah, Allah memberikan sakit pada saya di akhir tahun jadi posting tentang haji tidak dapat ditamatkan di tahun 2018, alhamdulillah saya masih diberi umur sampai hari ini, semoga dapat terus berkarya lebih baik dan bermanfaat di tahun 2019 ini aamiin

Sebagai manusia, kita tidak bisa hidup sendiri,  dari a sampai z kehidupan semua melibatkan pihak lain dan tentu saja yang pasti dan tidak boleh dilupakan adalah kita hidup ini atas izin Allah.

Allah mengizinkan kami berhaji, dan alhamdulillah Allah mengizinkan kami bertemu dengan orang-orang sholih dan sholihah dari seluruh penjuru dunia, bahkan diceritakan dalam sirah, kita dianjurkan berteman dengan orang sholih, biar kecipratan yak^^; kalau hal-hal baik didekat kita inshaAllah kecipratannya yang baik-baik aja, dan demikian pula sebaliknya.  Dan Alhamdulillah banyak sekali hikmah yang dapat saya ambil, bertemu saudara baru dan alhamdulillah juga bertemu dengan sahabat sahabat sholih yang sudah saya kenal sebelumnya

alhamdulillah, di Madinah saya sempat berkumpul kembali dengan tetangga kami kala di Tokushima, sebuah keluarga yang berasal dari Mesir,M san, sahabat ini mengajarkan saya bahasa Arab, membaca al quran dan selalu menyuguhkan masakan Mesirnya yang super duper lezat setiap saya datang ke rumahnya(wkwkwk ini PENTING) hihi

alhamdulillah, hampir 7 tahun kami tidak jumpa, dan sekarang sahabat ini sudah menjadi ibu dari 4 anak(pas saya di tokushima baru dua anaknya), hal paling aneh adalah kami sama-sama tidak punya bahasa yang sama dalam berkomunikasi, dia kurang bisa berbahasa inggris, tidak bisa bahasa jepang dan pastinya tidak bisa bahasa indonesia pula, saya? bahasa arab huhuuh mengkhawatirkan, mungkin 2019 bisa jadi momen pas buat memulai belajar bahasa arab lebih intens lagi, akan tetapi, bahasa kalbu memang dahsyat, kami pun bisa (rasanya) bisa mengerti satu sama lain hihihi, dan yang paling penting adalah, kami menyayangi satu sama lain, inshaAllah semoga Allah berkenan mengumpulkan kami di jannahnya aamiin.

Dan di Madinah pula saya dihubungi kakak kelas saya jaman kuliah, dan baru tahu kalau beliau juga naik haji bersama kami, dan kami pun berjanji untuk bertemu, akan tetapi posisi beliau saat itu di Mekkah, akhirnya kami berharap bisa bertemu di Mina akan tetapi tidak sempat juga, dan alhamdulillah atas izin Allah juga akhirnya selesai rangkaian haji, kami sempat bertemu dengan B senpai dan juga suaminya,  mereka berangkat haji dari Brunei, semua memori kala masih kuliah datang, juga abis lulus sempat satu tempat kerja dengan B senpai dan kalau ketemu pasti yang diomongin ga habis-habis wkwkk maafkan dirimu B senpai, aishiteruuuu hihihi

doa yang sama untuk B senpai, semoga Allah berkenan mengumpulkan kita di jannahnya kelak, di gang PTU atau Nokaidai gitu ya senpai^^; hihiihi

sempat berjanji ketemuan dengan kakak kelas masa sma, tapi qadarullah belum sempat terlaksana semoga kita bisa ketemu dilain kesempatan ya mba K

dan setelah rangkaian haji selesai, acara jamaah kebanyakan adalah bebas, beberapa teman melaksanakan umrah sunah, dan saya dan suami, memilih untuk tidak umrah sunah, dan menggantinya dengan thawaf sunah.

saya sempat tidak enak badan, mulai batuk dan tenggorokan yang super tidak nyaman,alhamdulillah suami sehat walau sempat ‘disentil’ Allah karena bilang, wah aku ternyata sehat-sehat saja ya, daaannn sehari setelahnya langsung sakit panas huhuhu alhamdulillah suami pun sadar pada kekhilafannya dan Allah berkenan menyembuhkan panasnya sebelum kami pulang ke jepang.

Karena ada urusan keluarga suami yang tidak bisa ditinggalkan, kami pulang 2 hari lebih awal dari jamaah yang lain,  dan ini ada yang kami ingin sharekan ya ke teman-teman yang akan berangkat haji dan ingin pulang lebih cepat, silahkan pastikan jalan pulang, karena ada ‘kekurangkomunikasian’ saya dengan pihak travel.

Ceritanya begini

saya memesan tiket dan mengungkapkan keinginan saya untuk pulang awal dan pihak travel bilang kami bisa pulang duluan dengan membayar 30rb yen untuk uang penggantian jadwal tiket dan kami sepakat dengan itu.

akan tetapi saya pikir karena sudah satu set dengan ibadah haji, pastilah sudah ada akomodasi dari hotel ke bandara, dan ketika saya konfirmasikan bagaimana kami akan ke bandara,  panitia bilang kami harus ke bandara by ourselves aka tidak ditemani oleh staff dari pihak travel dan itu diluar ekspektasi saya.

ketika saya tanyakan bagaimana kami bisa sampai ke bandara, staff travel menjawab kami bisa naik taksi dan biayanya sekitar 500 riyal dan waks kami yang berbudget minimalis sempat terkoyak hatinya, mahal ya Allah, 500 riyal kan hampir 30rb yen, dan akhirnya malam sebelum kami pulang kami tukar uang riyal dan sambil kami tanya lagi, apakah ada ‘cheapest way’ to get airport? dan alhamdulillah dibalas setelah kami terlanjur menukar riyal, dengan jawaban kami harus naik taksi 100 riyal dari maktab ke terminal, setelah itu dari terminal ke airport kami bisa naik bus yang disediakan pemerintah arab, dan ketika kami tanya biayanya, alhamdulillah GRATIS hihihhi kata-kata ajaib yang bikin bahagia hahaha alhamdulillah ya Allah

jadi pastikan perjalanan anda lancar tanpa defisit budget  selama di saudi arabia, karena disana tidak direkomendasikan memakai kartu kredit dan juga atm bank jepang kita susah untuk dipakai disana.

dan alhamdulillah kami sampai di bandara jeddah dengan selamat, sempat jajan al baik tapi ga sempat bawa pulang huhu, semoga dapat jajan al baik lagi ehhhh semoga Allah berkenan menyampaikan kami lagi ke tanah suci, untuk beribadah haji maupun umrah aamiin, tidak lupa kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya pada Allah yang mengizinkan kami berhaji, dua ibu kami(ibu dani dan ibu muto) yang berkenan menjaga buah hati kami selama kami pergi,  6 anak sholih sholihah kami ya ridho kami pergi haji, sahabat sholih sholihat nagoya dan tanah air atas semua support dan dukungan, ada yang mengenalkan travel agen, ada yang datang kerumah bikin ramen dan gyoza party, ada yang menghadiahkan mukena dan semua perlengkapan yang memudahkan kami berhaji, we love you all, semoga Allah berkenan memanggil kita semua beribadah ke tanah suci ya aamiin ya rabbal’alamiiinnn

phoyo dari kiri ke kanan, atas  ke bawah

  1. alhamdulillah ketemu B senpai dan ngupi ngupi di krispy cream nya mekkah, inshaAllah ketemu lagi ya mbaaa
  2. Paksu rindu makanan jepang, jajan kami pertama di Tokyo, sambil menunggu bus ke nagoya
  3. Saya menemukan paksu ala-ala Hawa menemukan lagi Nabi Adam ^^;
  4. Janjian selepas shubuh dengan B senpai, hanya atas izin Allah kita bisa ketemuan di lautan jutaan manusia itu ya mba
  5. Saya dengan M san(photo ditutup), jazakillah khairan katsir, uhibbukifillah semoga kita bisa jumpa lagi ya M san
  6. wajah kuyu belum mandi sesampai di Nagoya, here we come, semoga bisa berdakwah lebih lagi setelah perjalanan haji ini

 

 

Advertisements

Da Mutos go to hajj 12

FINALEfunnyenglish

alhamdulillah,pelemparan jumrah pada tanggal 13 dhulhijah menjadi rukun haji terakhir bagi kami.

air 1 menyiapkan rangkaian haji yang paling dekat dengan sunnah rasul. untuk kemah di mina, kami di jadwal untuk menginap sampai dengan tanggal 13 dhulhijah,akan tetapi karena majunya kalender hijriyah satu hari, maka tanggal 13 dhulhijah jatuh tepat pada hari jumat, dan banyak bapak-bapak yang sempat galau mau pulang 12 (nafar awal)atau 13 dhulhijah(nafar tsani) karena kesempatan sholat jumat di masjidil haram hanya tinggal 13 dhulhijah saja, terutama kami yang berencana pulang dua hari lebih cepat dibanding dengan jamaah air 1 lainnya.

Jamaah jepang yang ikut di rombongan air1 memutuskan untuk bernafar awal karena beberapa jamaah yang sakit dan juga pihak sponsor ingin bertemu dengan rombongan haji.

Suami saya yang berangkat tidak bersponsor sempat agak galau ingin pulang duluan karena para jamaah yang jepang pulang duluan. Akan tetapi akhirnya air1 mengumumkan kita akan pindah dari mina pagi di hari jumat, sehingga inshaAllah masih sempat berjum’atan di masjidil haram.

Jumat pagi sebelum shubuh kami beranjak ke jamarat untuk melempar batu yang terakhir kalinya, saya adalah pejalan kaki yang lamaaaaaa banget, dan katanya sebaiknya kerikil dilempar setelah shubuh akan tetapi saya takut kalau pergi setelah shubuh kami akan ketinggalan rombongan pulang ke apartemen,  jadi kami memutuskan berangkat sebelum shubuh, shubuh di jamarat, lempar jumrah dan pulang.

kami berangkat dalam keadaan sudah berwudhu dan oh ya jalan dari maktab sampai jamarat sekitar 4km, jadi pp 8 km-an ya, kemudian ada insiden yaitu selama saya di mina, saya agak ‘mohon maaf’ kesulitan BAB, disamping saya suka ‘kemrungsung’ kalau diketok-ketok orang kalau lagi di toilet, juga kadang karena harus antri lamaaa di toilet jadi suka saya ‘kesampingkan’ hasrat-hasrat yang berhubungan dengan kamar mandi dan sekitarnya ini.

nah, tanggal 12 dhulhijjah, di perjalanan pulang lempar jumrah, hasrat ingin ke belakang saya timbul, padahal sampai maktab masih 4 km lagi, dannn seingat saya tidak ada perhentian untuk menyalurkan hasrat(#halah), di keadaan genting ini, wajah suami so cool huhuhu bikin sebel, aku sedang butuh toilet bukan wajah coolnya hiks hiks dan dengan penuh keberanian dia bilang Gambatte ibu, kita semangat jalan pulang yak huhuhu dan alhamdulillah ‘keburu’ walau sakit perutnya astaghfirullah, ga mau lagi deh. Nah rupanya pagi hari tanggal 13 itu adalah giliran suami yang berhasrat, dan ini lebih parah, di km 3 kami jalan menuju jamarat, suami mulai bilang bu, perutku sakit huhuhu mau bilang rasain kamu juga bukan solusi kan? ini belum nyampe jamarat dan belum sholat shubuh juga, tapi wajah suami udah melas bianget, saya pun tak kuasa melihatnya merana(cen lebay hahaha) dan dikeramaian itu, saya beranikan diri mendekati askar, pedeaje pakai bahasa inggris, excuse me, is there any toilet here?

eh si askar senyum senyum? oh you want to go to  maktab thailand?

ha? (melongo) eaaaaa disaat genting begini ada yang tidak nyambung wkwkwkw astaghfirullah hal adzim, kemudian dia menyuruh kami melawan arus menunjuk ke suatu tempat dan kami ikuti, tapi ternyata usaha kami belum berbuah, kemudian kami dekati askar lain, saya sudah mulai ‘mutung’ bahasa inggris pun tidak selengkap tadi, saya bilang toilet? dia bilang ‘yalaa yalaaa’ (mungkin semacam minggir minggir artinya)  huhuhu tetap saya kejar toilet? dia tetap tidak tahu, dan entah saya dapat wangsit(ya elah pergi haji percaya wangsit) hahah bukan wangsit ya, tapi pertolongan allah berupa ilham datang, saya ingat tulisan dengan arab gundul didepan toilet wanita hamam nisa(maaf kalau salah baca) jadi saya bilang ke askar, where? hamam? where? wkwkwk ampuni hamba ya Allah atas keterbatasan bahasa ini, dan alhamdulillah askar pun diberi Allah ilham memahami ‘kebutuhan’ kami.

askar menunjuk sebuah tiang yang ada pintunya dan dia bilang kalian turun ke lantai paling dasar dan tanya petugas disana, (mungkin dia ngomong begitu wkwkwk tetap terjemahan bebas) hahaha, dan alhamdulillah hasrat suami pun tersalurkan(wkwkwk maaf horor) dan dia bisa wudhu juga di toilet yang ditunjuk oleh askar itu, huhuu baru di jamarat saja, kami merasa begitu kecil, bagaimana lagi suasana padang mahsyar ya.

setelah itu kami balik ke lantai 3 jamarat, dan tepat saat adzan shubuh, kemudian kami memasukkan diri di jamaah malaysia yang akan mendirikan sholat shubuh dan alhamdulillah sholat shubuh terlaksana dan berbonus dapat saudara baru, alhamdulillah selesai shubuh, kami melempar jumrah terakhir kami dan alhamdulillah selesai semua rukun haji kami dan semoga Allah berkenan menjadikan kami haji yang mabrur dan mabrurah, aamiin

hikmah perjalanan di Mina itu adalah dalam setiap kehidupan manusia pasti ada cobaan dan rintangan, ada kalanya kita bisa menjalaninya sambil tertawa, sambil meringis(wkwkwk nahan hasrat), kadang pula sambil menangis. Kadang kita mencondongkan harapan pada manusia, tapi ternyata manusia yang kita harap bisa membantupun tidak dapat berbuat banyak(wkwkw seperti suami yang tidak mencarikan toilet buat saya) ahaha dan ada kalanya ada istri yang mencarikan toilet untuk suaminya ahahahaha(bukan meninggikan mutu lho ya), tapi ketika kita kembalikan semua itu pada Allah, mashaAllah pertolongan Allah itu dekaaaattt banget, musti pintar-pintar merubah semua rintangan itu sebagai jalan untuk menambah rasa syukur kita pada Zat yang Maha segalanya Allah SWT dan inshaAllah, bila kita selalu menghiasi rasa kita dengan ungkapan syukur, semua rintangan pun terasa ringan

wallahu’alam bisshowab

so…. da mutos dah berhasil berhaji, tapi belum cerita pasca haji di Mekkah, jadi masih bersambung lagi deh yaakkk (jangan bosen yaaaa hihihi)

keterangan photo:

  1. spanduk peringatan didepan tenda maktab 96 yang alhamdulillah berbahasa indonesia sepertinya gambar tidak sinkron dengan bunyi peringatan(meleset satu gambar, ke kalimat sebelumnya) semoga pemerintah Arab mau membetulkan spanduk ini kedepannya aamiin
  2. peringatan jangan duduk di jalan miss type  ‘don’t sit on roads’
  3. ada japanese english juga di tempat menaruh kursi, ada yang lengkap ‘please return the chair’ tapi yang japlish tertulis begini ‘please re-chair’ wkwkw
  4. tempat air panas didepan tenda, wallahu’alam, tidak ada huruf P dan B di Arab sehingga air pun menjadi Banas

 

Da Mutos go to Hajj(11)

Mina, Miniature of Life

minawithlove

 

Sepulang dari umrah, kami istirahat di apartemen, di sini kami dibagi menjadi berbagai kamar, sedih sekali bahwa kamar 609 di madinah dipecah menjadi 3 kamar di apartemen ini, Mba N dan Mba S sekamar, kemudian Mba I, T chan, E chan, I chan sekamar dan hanya saya yang sendirian di kamar dengan anggota-anggota baru.

Beda suasana dengan kamar di Madinah, kamar di apartemen pun tak kalah seru!Ada ibu D yang setiap kalimatnya menyejukkan, ibu D berangkat bersama suaminya, ada Mba I yang tetangga di Nagoya tapi jarang ketemu, tapi jangan salah ya tetap dekat di hati, Mba I berhaji bersama keluarganya(suami, anak laki-laki kelas 2 smp K chan, dan anak perempuan kelas 4 A chan)  dan di kamar kami ada masuklah Mba I  yang penuh ide dan A chan yang MashaAllah semangatnya T.O.P deh, kemudian ada G chan yang berhaji bersama suami dan batitanya A chan juga, semua ibu-ibu hebat, kami sempat bersama setengah hari tapi segera harus ke Mina malamnya.

Dan tak terasa malam datang, kami pun berkemas menuju Mina, naik bus kota yang di carter air 1 hmm bus Arab ini rasa kopaja jaman saya masih di Jakarta dulu, bedanya setirnya di kiri ya, kalau jiwa petualangnya mah ga kalah ama supir kopaja hihihi, alhamdulillah naik bus serasa jet coaster(#lebay) haha dan sekitar 30menitan sampailah kami di tenda tercinta maktab 96 untuk jamaah asia tenggara.

Kesan pertama wah kemah!! hihihi tendanya kuat dan luas tapi ternyata tidak seluas badanku #eh hihihihi kalau dengar-dengar dari cerita tahun-tahun sebelumnya, tampaknya lokasi tenda tiap tahun tidak sama. Tahun ini tenda air1 ada didekat pintu masuk maktab 96. Tenda laki-laki berbelakangan dengan tenda perempuan dan di depan tenda perempuan ada tenda HIS,  FYI saya cari-cari tenda MIAN tidak ketemu katanya sih dibelakangnya HIS, dan jarang sekali berpapasan dengan jamaah MIAN di toilet (wkwkw kayak apa aja ya ketemuannya di toilet) hihi

alhamdulillah smp dan sma pramuka(halah) dan pas kuliah ikut klub pecinta alam jadi suasana Mina baik-baik aja, ditambah makan 3 x sehari juga tersedia jadi selain ibadah, kegiatan kami otomatis hanya makan tidur dan ke toilet saja. Dan alhamdulillah sisters sekamar tenda yang datang duluan busnya udah nyiapin tempat di dalam tenda jadi pas masuk udah ada yang ngetag-in tempat jadi kami yang di madinah bersatu kembali di Mina.

Dalam tenda ini selain air 1 japan ada juga jamaah dari hongkong dan korea, semua seru-seru, dan banyak cerita tak terlupakannya

kami menginap mulai tanggal 8 dzulhijjah, 9 dzulhijjah pindah ke arafah, menghabiskan waktu sampai adzan maghrib di arafah. Untuk suasana di Arafah, kata suami dia membayangkan harus naik bukit dan berdoa diatas bukit tapi ternyata kami naik bus ke arafah dari mina, dan menghabiskan hampir sebagian waktu kami didalam tenda.Alhamdulillah suhu di arafah fantastis, mencapai 49 derajat.

sunnahnya berdoa dibawah pohon setelah dhuhur sampai matahari tenggelam, tapi banyaknya jumlah jamaah dan sedikitnya pohon, akhirnya kami sempat berdoa diluar hanya sekitar 30 menit, setelah itu kami habiskan waktu dalam tenda dan lanjut dzikir dan membaca quran didalam tenda.

ketika waktu beranjak sore, kami bergerak ke muzdalifah, ini juga dalam manasik kami membayangkan perpindahan dari arafah ke muzdalifah ini jalan kaki, ternyata kami naik bus lagi, alhamdulillah dan sesampai di muzdalifah, saya membayangkan dataran tanah yang berkerikil, jadi kami bisa mencari batu untuk melempar jumrah. Tetapi ternyata Muzdalifah sudah diaspal,  dan diatasnya digelar ratusan karpet dan malam itu kami tidur membentangkan sleeping bag diatas karpet-karpet itu.

Dalam manasik, kami diberitahu bahwa kami harus mencari 70 buah kerikil untuk dilempar di jamarat, dan sesaat setelah kami sampai di atas karpet muzdalifah, seorang teman datang membawa beberapa bungkusan kecil, dan menyerahkan pada kami, ini kerikil buat lempar jumrah katanya seraya pergi. Ha? melongo, kenapa kerikilnya udah plastikan? hihihi ternyata, memang ada yang menyediakan kerikil untuk melempar jumrah ini tapi karena ukurannya beragam, jadi kita pilih 70 buah yang sesuai dengan ajaran, hmm tentu saja dikembalikan pada semua, mau sesuai sunnah mencari kerikil beneran , atau ‘memilih’ kerikil (huhu ini sebenarnya kurang greget buat saya, tapi akhirnya saya berakhir dengan ‘memilih’ kerikil)

di muzdalifah ini, travel kami membagi karpet untuk jamaah laki-laki dan perempuan, dan diantaranya dipersilahkan untuk suami istri yang mau tidur berdekatan dengan suaminya untuk tidur disitu, saya diberi tempat disitu oleh teman, tapiii hahaha rupanya suami saya memilih untuk berbarengan dengan teman sekamarnya saja, mungkin dia malu hahah(menenangkan diri, menghela nafas) beklah suami, mungkin lebih khusyu tanpaku ya huhuhu

jadi akhirnya saya bujang diantara para pasangan suami istri disana, huhu sepi tanpamu suami hahaha lebay^^; tapi tak lama kemudian saya sudah tertidur dan selang 2 jam kemudian bangun dalam kekagetan, wow, karena dikanan kiri kami sudah banyak sekali orang-orang yang kami tidak kenal tidur di sekitar kami.

Arafah dan Muzdalifah, dua tempat ini sangat memberikan kesan mendalam dalam kehidupan saya, saya melihat seluruh jenis manusia di dalamnya, dengan segala kebiasaan yang biasa dilakukannya. Bayangan Padang mahsyar yang terbentang luas dimana semua sibuk mengurus ‘diri sendiri’ berkelebat dalam kepala saya, astaghfirullah hal adzim, akankah saya menghadap Allah kelak dengan berjalan tegak membawa buku dengan wajah yang bersinar-sinar? ya Allah masukkanlah kami dalam barisan umat Nabi Muhammad SAW yang datang kepadamu dengan wajah berseri-seri, aamiin

dan seusai sholat shubuh, kami pun beranjak antri menaiki bus menuju ke mina lagi.

di masjidil haram semua sedang menunaikan sholat eid adha, kami di mina sholat fardhu diqasar dan jadwal hari ini adalah melempar jumrah aqabah. jam lempar jumrah per maktab berbeda, dan hari itu jadwal kami sore, setelah ashar.

setelah jumrah dilempar dan kami mendapat kabar hadyu sudah disembelih maka kami sudah boleh bertahalul dan melepas ihram, suami yang tidak mau digundul bilang mau dipotong sedikit saja, dan saya pun mengangguk, terserah dia, dan 30 menit setelah itu saya terperanjat ketemu suami yang sudah gundul, eh?katanya ga gundul?  dan dengan senyum lebarnya dia jawab, haha sekalian aja lah hahaha^^; alhamdulillah.

Air 1 menjadwalkan thawat ifadhah tanggal 11 dhulhijah, jam 2 pagi, dengan alasan tidak terlalu panas dan bisa sekalian sholat shubuh, tapi juga tidak menutup kemungkinan siapa saja yang ingin menunaikan thawaf sebelum atau sesudah 11 dhulhijah ini, jadi kalau teman-teman kesana silahkan didiskusikan dengan kondisi badan ya. Yang harus diingat kita minimal masih harus menginap di mina sampai 12 dhulhijah dan maksimal sampai 13 dhulhijah, jadi kalau kita laksanakan thawaf antara tanggal 10 sampai tanggal 12 berarti kita masih wajib kembali ke mina, dan bus untuk ke mina tidak jalan sampai tanggal 13 dhulhijah, jadi kita harus jalan atau naik taksi atau naik bus yang harganya sesuai dengan amal ibadah kita hihi ga dink tapi kita harus bargain untuk tarif bus atau taksi dengan supirnya jadi silahkan sangu uang riyal yang cukup untuk keperluan transportasi ini, karena ini tidak ditanggung oleh travel agen.

alhamdulillah, sempat ada badai saat kami di mina, semua kehendak Allah tenda yang kuat pun bergoyang keras, pasir masuk kedalam tenda, dan masuk ke mata kami, la haula walaa quwwata illabillah, ya Allah kami tiada daya tanpamu.

Di Mina juga saya sempat ketemu dengan saudara yang tinggal di Fukuoka, ketemu dengan tetangga di Fukuoka juga, tetangga di nagoya dan juga saudara-saudara baru.

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, semoga Allah menerima ibadah haji kami ini aamiin

photo caption dari kiri ke kanan, atas ke bawah

photo 1: suasana didepan tenda di arafah

photo 2: senja di arafah, menunggu bus ke muzdalifah, masukkan kami dalam golongan umat Muhammad ya Allah

photo 3: wajah bahagia setelah thawaf ifadhah (thanks untuk pak A di Hokkaido yang udah motoin^^;)

photo 4: tenda mina di jalan antara aziziyah dan maktab 96(ada crispycreeme lho pake bahasa arab hihihi,  sayang ga bawa riyal yang cukup hihi)

photo 5: stasiun jamarat dari jalan keluar dari tunnel mina

photo 6: perintah ‘aneh’ yang makan waktu memahaminya, ternyata maksudnya don’t sit on road^^; photo credited to mba E di ehime

photo 7: Jamarat, lantai 3, suasana pelemparan jamarat

photo 8: batu sisa kerikil untuk pelemparan jamarat

photo 9: alhamdulillah sudah selesai semua rukun haji, semoga mabrur

 

 

Da Mutos go to hajj(10)

Mekkah, Here we come

Disebutkan dalam Al qur’an

“(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan:”Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Hasbunallah Wani’mal-Wakîl”, Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. Ali-Imran 3:173)

afterumrah

Sesi photo-photo dalam kamar terhenti karena ada yang mengetok pintu memberitahukan bahwa bus menuju mekkah sudah didepan hotel, kami yang super nyantai langsung berhamburan menuju bus, dan kutemui suamiku sudah duduk manis dalam bus, hoooooiiii kenapa aku ga dijemput? apa jawabnya? masak sih air 1 tega ninggalin kalian katanya.. wkwk gubrak, dah ga usah ngedumel, kan udah ihram tuh, dikit lagi mau ke miqot musti membersihkan hati dari yang ga perlu-perlu dibahas ya kan? hihihi
Dan berangkatlah kami dari madinah menuju miqot bir ali, dan beberapa saat kami naik bus, tidurlah kami mendekap barang yang banyak bianget. (di cerita yang lalu sudah saya sebutkan, karena majunya kalender hijriyah 1 hari, maka kami setelah pagi menyelesaikan umrah, malamnya kami langsung menuju mina untuk berkemah disana. Oleh karena itu, barang yang akan dibawa ke Mina diminta dipisah dari koper, sehingga di Mekkah kami tidak perlu bongkar pasang koper lagi.
Untuk koper besar, sudah berangkat bersama dengan koper-koper jamaah yang lain, jadi bus hanya mengangkut penumpang dan juga barang yang akan dibawa ke mina.
akan tetapi kemah di mina bukanlah untuk 1-2 hari melainkan 5-6 hari, jadi bawaan pun spektakuler, belum lagi setelah suami selesai memakai kain ihram dan mengumpulkan koper ke bawah, suami dapat hadiah seperangkat kain ihram dan ini tidak masuk ke tas manapun jadi kami memeluknya selama perjalanan ke mekkah.
Dari berangkat suasana sudah ‘lebih’ berasa kami akan berhaji karena semua mulai melafadzkan kalimat talbiyah labbaikallahumma labaik, dst. Akan tetapi beberapa saat setelah itu saya merem, dan saya terbangun karena tiba-tiba busnya berhenti, dan kebetulan di bus kami tidak ada pembimbing yang naik, jadi setengah bertanya-tanya, inikah miqot? hmm saya pun mengajak suami melafalkan niat, dan dikabarkan kami tidak akan turun di miqot karena waktunya sangat terbatas, jadi kami diminta berniat dalam bus. Jadi kami berniat dalam bus lalu seluruh bus mulai melantunkan labbaikallahumma labaik, labaika laa syarikalalaka labaik , innal hamda wannikmata, laka wal mulk, laa syarikalak… huhuhu syahdu euy ya Allah terimalah niat umrah untuk melengkapi haji tamattu hamba ini, aamiin.
Dari google map tertulis antara Madinah ke Mekkah jaraknya sekitar 500km dan untuk perjalanan biasa dapat ditempuh dalam waktu 5-6 jam. Akan tetapi karena ini musim haji, kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 10 jam-an, berangkat dari madinah jam 6 sore dan tiba di apartemen di mekkah sebelum jam 5 pagi. Dan karena udah hampir masuk jam sholat shubuh ketika kami sampai di apartemen, maka kami diminta untuk sholat di musholla apartemen dan baru setelah itu kami pergi ke masjidil haram untuk melaksanakan umrah.
sebenarnya udah agak syahdu, dari apartemen itu keliatan jam nya menara zam-zam yang berkilauan di malam hari, bagussss tapi pak suami nyeletuk bu clock tower mengingatkanku pada batman(astaghfirullah hal adzim) hahaha kayaknya idenya dari kota Gotham gitu ya, ada sinar yang berpencar-pencar ke berbagai penjuru ^^;hahah kok malah jadi batman sihhhhh
Seusai shubuh, kami berangkat bersama sambil bertalbiyah, syahduuuu huhuhu dari berangkat aja dah mewek-mewek, terima kasih Allah, sudah kau kabulkan permohonanku agar bisa berkunjung ke Mekkah, memenuhi panggilanMu berhaji ya Allah, semoga Engkau berkenan menerima ibadah kami ini aamiin.
Dari apartemen kami berjalan menuju halte, kemudian naik bus menuju masjidil haram, sesampai di halte dekat masjidil haram, wajah suami saya tampak gelisah, saya tidak bisa menangkap apa yang terjadi, tapi suami tampak amat gelisah. Saya coba mendekatinya, dan sekali lagi dia menjauh dari saya huhuhu apa apaan sih otosan aku kok didekatin menjauh huhuhu
dan pas hampir masuk ke masjidil haram saya mulai protes, otosan, kalau kamu menjauh dari saya terus, saya mau bareng thawaf ama yang lain. dan suami tambah gelisah, saya pun akhirnya bertanya, kamu kenapa sih? dannn apa jawabnya?? bu, ihramku kayak mau lepas… bisiknya ha? astaghfirullah,posisi kami sudah didepan pintu masuk masjidil haram, dan saya langsung panggil teman-teman sekamar suami di madinah, saya bilang tolong suami saya, ihramnya kayak mau lepas hihihihi alhamdulillah pasukan kamar 709 sigap, semua membentuk lingkaran menutupi suami dan dibetulkanlah ‘posisi’ ihram suami, dan keluar dari lingkaran itu, wajah gelisah suami sudah berubah menjadi senyum yang amat lebar wkwkwk mbok dari tadi bilang tho pak! Kemudian pembimbing kami bilang, kita sholat dua rakaat, kemudian kita thawaf, sai dan kalau Allah menakdirkan kita berpencar-pencar, nanti kumpul lagi di bukit marwa seusai sai ya, ujarnya. Kami masuk masjidil haram dari pintu 97 tepat di sebelah kiri pintu king abdul azis( di jam saat kami datang, karena sudah banyak yang masuk ke dalam masjid, maka pintu tersebut sudah ditutup.
Kemudian masuklah kami ke dalam Masjidil Haram itu, labaikallahumma labaik, Ya Allah, indahnya ka’bah, tempat kita tiap hari menghadapkan badan ini ke arah ka’bah untuk menyembah Allah, dan kini ka’bah ada didepan mata, seketika mataku memanas, Alhamdulillah, rindu ini tercapai ya Allah, terima kasih kau izinkan aku memandang ka’bah langsung dengan mata ini ya Allah, indah,MashaAllah, tiada kata yang dapat terucap, hanya syukurku padaMu ya Allah.
Seusai melaksanakan sholat, kami pun berthawaf, dan Maha Besar Allah, pengumpul dan pemisah manusia, dari jamaah air 1 yang ratusan(jepang, korea dan hongkong) semua memulai thawaf bersama, dan ditengah thawaf saya tersadar bahwa tak tampak seorang pun jamaah air 1 kecuali suami, yah kami terpisah dalam lautan manusia yang berthawaf. Dan kami lanjutkan thawaf kami, saya terus menggandeng tali tas selempang suami agar kami tidak terpisah, dan selesai 7 putaran, kami melaksanakan sholat 2 rekaat dan minum air zamzam, di tempat minum air zamzam, kami bertemu lagi dengan jamaah dari korea, alhamdulillah, tapi tetap juga tidak ada yang kami kenal dari jepang, hiyaaa mungkin semua telah jauh di tempat sa’i. Dan kami pun bergabung dengan jamaah air 1 korea, dan kami mulai bersa’i.
Subhanallah, membayangkan ibunda Hajar dalam kegelisahannya berlari mencari air, meninggalkan nabi ismail yang masih bayi, betapa taatnya beliau pada suaminya, sedang aku? hiks hiks suaminya gelisah ihramnya mau copot aja protes hiks hiks. Ketika kami sampai putaran kelima sai, baru terlihat jamaah jepang yang tadi bareng kami, dan ketika kami sapa, ternyata mereka baru putaran ke 3, dan kami kembali berjanji untuk bertemu lagi setelah selesai sa’i. Setelah selesai sa’i, kami kembali bertemu dengan jamaah dari korea dan hongkong, jadi kami pun meminta tolong mereka untuk bertahalul. Setelah itu kami pun menunggu yang lain, berharap bisa segera bertemu teman-teman dari Jepang, tapi 30 menit menunggu, tidak kunjung datang, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan melihat-lihat bagian dalam masjidil haram, Tak puas puas saya memandang ka’bah, betapa besarnya hati nabi Ibrahim as, betapa teguh iman beliau, berjuang menegakkan tauhid ditengah para penyembah berhala, semua yang pernah didengar dalam pelajaran agama dulu pun rasanya begitu dekat. semoga kelak Allah mengizinkan kami ke baitullah lagi bersama anak-anak dan bahkan cucu-cucu kami aamiin.
Kami berusaha terus mencari teman-teman setravel kami, tapi tak kunjung datang juga, perasaan khawatir karena baru pertama ini kami ke masjidil haram, bisa ga ya pulang ke apartemen sendiri, dan segala kekhawatiran kami. Tapi tetap kami putuskan untuk keluar dari masjid, di depan pintu ada seorang ibu dari hongkong yang tampak kebingungan dan memanggil manggil kami karena warna rompi kami sama, ternyata dia sedang menunggu suaminya selesai sa’i dan dia bersama ibundanya yang tidak enak badan setelah menyelesaikan thawaf, jadi beliau belum sa’i tapi memutuskan untuk pulang istirahat dulu karena kondisi ibundanya yang tidak memungkinkan. Dia bertanya apakah kami membawa makanan, dan alhamdulillah, beberapa cracker yang tidak sempat kami makan di pesawat dulu ada dalam tas selempang kami. Beberapa saat bersama ibu tadi, akhirnya kami putuskan untuk berusaha pulang bersama tanpa menunggu jamaah yang lain. Beberapa saat kami berjalan ternyata jamaah air 1 dari hongkong sedang beristirahat di depan menara zamzam, jadi si ibu dan ibundanya bilang akan ikut rombongan hongkong saja. Dan kami meneruskan jalan menuju halte, alhamdulillah ketemu jamaah hongkong lain yang akan pulang, dan alhamdulillah ini adalah kali kedua mereka datang di Mekkah jadi sudah lumayan ‘hafal’ katanya, akhirnya kami ikut mereka, dan pulang ke apartemen.
Perjalanan dari apartemen, masjidil haram, thawaf di lantai 1(didekat ka’bah persis), kemudian sa’i dan kembali sampai apartemen lagi adalah sekitar 11 km(16rb langkah) hihihi wow kan? bayangkan selama ini di jepang saya hanya jalan sehari 2-3rb langkah saja di hari saya bekerja, dan selama di madinah pun alhamdulillah selalu diatas 10rb langkah tiap harinya!! mashaAllah memang pertolongan Allah itu dekat, alhamdulillah Allah berkenan memudahkan saya dalam berjalan walaupun pas di Jepang tiap hari kepentok sampai niat saja rasa ingin berjalannya.

Hampir seluruh perjalanan dalam berhaji ini benar-benar mengingatkan pada saya bahwa Penolong yang sebaik-baiknya penolong adalah Allah, dan bersama Allah tidak ada yang tidak mungkin, wallahu’alam bishshowab

photo 1: menara zamzam(menara batman dari kota Gotham kata suami^^)

photo 2: saya seusai umrah

photo 3: suami seusai umrah

photo 4: ka’bah yang selalu kurindukan

 

Da Mutos go to hajj(9)

Madinah, til we meet again

madinahgoodbye

Dalam itinerary yang dikirimkan air1, jadwal kami pindah dari madinah ke mekkah adalah tanggal 17 agustus 2018, sempat ditengah-tengah ada wacana untuk maju 1 hari ke mekkahnya karena pemerintah arab mengumumkan dhulhijjahnya maju 1 hari, akan tetapi akhirnya tetap ke mekkahnya tanggal 17 dengan konsekuensi, pagi sesampai di mekkah kami harus langsung umrah(untuk yang mengerjakan haji tamattu), dan malamnya tidak menginap di mekkah, akan tetapi langsung pindah ke tenda di Mina.

alhamdulillah sempat ketemu dengan tetangga di Tokushima dulu, sebuah keluarga berasal dari Mesir yang setelah menyelesaikan studi di Tokushima, sekarang mengajar di sebuah universitas di Madinah, bahagia sekali bisa berjumpa dengan mereka setelah 7 tahun kami tidak bertemu, bayi2 yang dulu saya gendong-gendong sekarang sudah 10tahun dan 7 tahun, ditambah lagi 2 anak mereka yang lahir tanpa sempat bertemu. semoga Allah senantiasa melindungi mereka dan semoga kami bisa bertemu lagi kelak aamiin

kemudian di hari terakhir di madinah, kami berkencan dengan teman sekamar untuk mengelilingi masjid nabawi, karena biasanya kami hanya PP dari hotel ke masjid untuk sholat, belum sempat muter-muter, tapi kok ternyata saya ga photo berdua ama suami yak disini huhuhu harus diulang nih. (aamiin)

kami berputar ke pintu aisyah, konon aisyah ra memakai pintu ini untuk masuk kedalam masjid nabawi, kemudian ke pintu jibril, dimana malaikat jibril sering melewati pintu ini untuk menyampaikan wahyu, dan pintu-pintu utama lainnya.

Di jalan sempat lihat ada elevator untuk ke roof, tapi karena waktu terbatas kami tidak kesana, ternyata pas cerita ke suami, dia dengan santainya bilang oh aku kemarin udah kesana^^; wkwkw oh suami, bukankah ke surga aku nunut ke neraka, aku ga mau ikut? haha, ternyata ngintip hp suami, dia bahkan punya photo raudah juga (FYI untuk buibu, kalau berkesempatan ke raudah, hmm jangan sedih ya buibu, pandangan kita ke makam rasulullah terhalang oleh kain  yang dibentangkan untuk memisahkan antara shaf laki-laki dan perempuan, saya agak ilfil pas tahu hal ini, jadi taunya kita di depan raudah cuman karena karpetnya masih merah atau sudah hijau, yang karpet hijau berarti itu adalah tempat kita sholat.

nah buat bapak-bapak inshaAllah bisa lihat langsung pintu makam rasulullah dan 2 sahabat, tapi inshaAllah jangan lupa yak, bahwa didepan raudah atau ‘hanya’ didalam masjid nabawi itu sholatnya pahalanya sama, jadi jangan berkecil hati kalau kita tidak bisa memandang langsung makam rasulullah, karena rahmat rasulullah itu ke semua umat islam di bumi, jadi tetap semangat!

kemudian kami sempat ingin ziarah ke makam baqi, tapi ternyata ditutup dan wanita tidak boleh masuk kata askarnya, ada teman yang sempat masuk pas ada jamaah yang meninggal ba’da sholat shubuh, tapi pas saya keliling itu semua pintu menuju baqi ditutup.

setelah pulang dari masjid nabawi kami kembali ke kamar dan wefie wefie yang photonya ada di yang no 6 itu, sampai tiba-tiba ada yang ngetok kamar kami, woyyy bus menuju mekkah sudah dibawah wkwkwk dan kami pun berhamburan lari dari kamar menuju ke mekkah ^^;

selamat tinggal madinah, inshaAllah til we meet again

dan mekkah kami datang, labaikallahumma labaik, labaika laa syarikala laka labaik, innal hamda, wanikmata, laka wal mulk, laa syarikalak

photo atas 1: T chan dan mba N pas jalan-jalan keliling masjid nabawi

photo atas 2: pintu yang biasa dipakai aisyah RA untuk masuk ke masjid nabawi

photo atas 3:kubah hijau masjid nabawi

photo atas 4: I chan dan saya, ba’da shubuh

dari hp suami

madinahhusband

photo bawah 1: masjid nabawi malam hari

photo bawah 2: roof masjid nabawi

photo bawah 3: raudah by husband

Da Mutos go to Hajj(8)

Masjid Quba dan Jabal Uhud

Hari kedua di Madinah,  jadwal travel kami adalah jalan-jalan di sekitar Madinah. Di Itinerarynya tidak disebutkan kami mau kemana yang jelas di sekitar madinah^^

Ternyata tujuan wisata kami diawali dengan perjalanan ke masjid quba. Untuk sejarah masjid quba, dibawah ini yak, dapat contekan dari beberapa web yang bertebaran disana. ^^;  waktu yang diberikan hanya 30 menit di masjid ini, jadi sesampai kami disana, bergegas mengambil wudhu, sholat dua rekaat, cepret-cepret photo dan langsung balik lagi ke bus, setelah kami ke masjid quba, kami ke pasar kurma dan sesampai disana suami mewanti-wanti banget, ibuu, kita belum selesai rangkaian berhajinya, jangan belanja belanji yak katanya, wkwk belum nge-gas udah direm, terjadilah sampai di pasar kurma kami turun 5 menit dan takut tergoda, saya memutuskan untuk balik ke bus.

Oh ya, beda waktu saudi dan jepang ada 6 jam duluan di jepang jadi sejak datang rasanya ngantuk terus(alasan) hahaha selesai berbelanja di pasar kurma, kami menuju ke jabal uhud.

Untuk cerita tentang masjid quba ada dibawah yak

Masjid Quba adalah masjid yang pertama kali dibangun dalam peradaban sejarah Islam pada tanggal 8 Rabiul Awal 1 Hijriah. Masjid ini terletak di luar kota madinah, tepatnya sekitar 5 km sebelah tenggara Madinah. Setiap jamaah haji dan umroh selalu mengunjungi Masjid Quba.

“….Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (Mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih” (QS At Taubah: 108)

 

“Ketika pembangunan Masjid ini selesai, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengimami shalat selama 20 hari. Semasa hidupnya, lelaki yang dijuluki Al-Amin ini selalu pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu, Senin dan Kamis. Setelah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, para sahabat menziarahi masjid ini dan melakukan salat di sana.”( HR. Bukhari no. 1117 , HR. Muslim no. 2478)

Shalat di masjid Quba memiliki keutamaan. Menurut Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu bin Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhum, ia pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba, lalu ia shalat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah”.( HR. Tirmizi no. 298. Ibnu Majah no. 1401)

masjidquba

photo 1 : Tulisan Masjid Quba^^;

photo 2: lorong di satu sisi masjid Quba

photo 3: tulisan lagi wkwkw

photo 4: N chan adikku sayang

photo 5: N chan dan Y chan adik-adikku sayang

photo 6: S chan yang  maunya diphoto candid, tapi kamerawannya tidak pro^^;

photo 7: photo penjelasan tentang keutamaan masjid quba

photo 8: masjid quba dari sisi dekat parkiran bus

photo 9: wefie dulu ama suami, pemanfaatan kacamata hitam dan topi anti UV haha

Jabal Uhud

Untuk jabal uhud, sesampai disana rombongan korea ada disebelah saya dan suami, kemudian ustadz faizal kunhi yang kebetulan ada dalam jamaah korea menceritakan tentang hikmah yang bisa kami ambil dari perang uhud, perang dimana umat islam mengalami kekalahan yang disebabkan karena kaum muslimin tidak mengindahkan perintah rasulullah SAW.

Beliau(Ust. Faizal) bilang, jadi karena kejituan para pemanah dalam kaum muslimin, maka kaum musyrikin lari dari medan perang meninggalkan barang-barangnya, kemudian karena merasa yakin sudah menang, kaum muslimin hendak mengambil barang yang ditinggalkan tapi rasulullah menahan mereka. Beliau bilang, jangan ambil barang rampasan itu sekarang, akan tetapi para mujahid tidak mengindahkan larangan rasulullah dan akhirnya karena kaum musyrikin kembali ke medan perang, dan berperang lagi, maka banyak mujahid yang kehilangan nyawanya dalam perang ini.

masjidquba

konon sebelum tragedi perang uhud ini, rasulullah melarang umat islam untuk berziarah kubur karena takut umat islam akan melakukan syirik saat ziarah. akan tetapi setelah kejadian ini, rasulullah mengizinkan umat islam untuk berziarah yang tujuannya adalah agar kita selalu ingat bahwa ada kehidupan setelah mati yaitu kehidupan di akhirat yang kita akan kekal didalamnya.

Hikmah dari perang uhud ini adalah kita sebagai manusia sering kali tertipu oleh keindahan dunia yang fana(dalam hal ini terpesona pada harta rampasan perang atau ghanimah) dan tidak mengindahkan larangan-larangan dari Allah(dalam hal ini larangan rasulullah) dan akhirnya kita terjebak dan akibatnya fatal. Jadi diharapkan dengan berkunjungnya kita di jabal uhud ini, kita senantiasa ingat apa tujuan kita hidup, kemana kita akan pergi setelah mati, bergantung kepada tindakan yang kita perbuat di hidup di dunia ini.

wallahu’alam bisshowab

photo di jabal uhud

photo 1: panduan berziarah di jabal uhud

photo 2: jabal uhud dari kejauhan(kami tidak naik, dan panas hari itu tertulis 47 derajat di papan yang dipasang di  dinding disana, pas mendengarkan tausiyah ust. faizal rasanya spektakuler dan panas tidak hanya datang dari atas, tapi dari semua penjuru^^)

photo 3: masjid di sebelah bukit uhud

photo 4: jamaah air 1 dari belakang

Da Mutos go to Hajj(7)

Madinah, Love for Allah, Love because of Allah

 

alfatekah

Hanya Engkaulah yang kami ibadahi dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (QS. Al-Fatihah: 5)

Semua pasti tahu ayat diatas ini ya? inshaAllah sebagai seorang muslim minimal sehari 17 kali kita melafalkannya dalam sholat sholat kita ya.

Seorang sahabat memberikan saya sebuah buku panduan manasik haji, dan didalam buku itu  saya temui tulisan,

Anda harus memohon hanya kepada Allah, dan tidak memohon kepada selain-Nya

Awal membaca kalimat itu, saya tidak berpikir panjang, tentu saja memohon(berdoa) itu kepada Allah, memangnya mau memohon pada siapa?

Akan tetapi perjalanan di Madinah membuat saya berpikir ulang atas pemahaman awal saya ini. Saya pun berpikir sudahkah saya selalu memohon, selalu berharap pada Allah?

Malam sesampai di Madinah, saya mengikat janji dengan suami untuk berangkat sholat shubuh bersama jam 3 pagi, dan suami mengiyakan rencana ini. Sesampai di kamar setelah beberapa saat saya langsung tidur dan berencana akan sholat di masjid Nabawi jam 3 bersama suami. Beberapa saat setelah saya tidur, saya terbangun dan saya bersiap untuk pergi ke masjid Nabawi, dan waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi dan semua teman di dalam kamar sudah bersiap dan mengajak saya berangkat, dan ajakan ini saya tolak karena saya sudah berjanji akan ke masjid bersama suami. Akan tetapi 5 menit berlalu dari jam 3 dan tidak juga ada tanda-tanda suami akan datang ke kamar. Akhirnya saya putuskan naik ke kamar suami dan saya mengetuk pintu kamar suami. Dan apa yang terjadi? seorang dari teman suami keluar, dan ketika saya tanyakan, suami saya ada? dijawabnya tidak ada.

Ha? saya sempat bingung dengan jawaban teman sekamar suami ini, bagaimana mungkin suami saya tidak ada di kamar padahal dia berjanji akan menjemput saya dan berangkat ke masjid bareng. Panas wajah saya, menahan butiran airmata yang sudah akan tumpah, bagaimana mungkin? bagaimana mungkin? akhirnya saya putuskan pergi ke masjid sendiri dan alhamdulillah ketemu beberapa teman di perjalanan. Dan sesampai di masjid, saya merenung, bagaimana bisa suami saya meninggalkan saya tanpa bilang kalau dia akan berangkat duluan dll.

Selesai sholat shubuh saya sengaja tidak langsung keluar dari masjid, pikiran saya terus berpikir keras kenapa kami tidak bisa berangkat bareng, dan semua pikiran pikiran yang melintas di kepala saya. Dan setiba saya didepan kamar saya, ada wajah suami saya yang terlihat khawatir, ibu? ibu? ibu? katanya

Air mata saya pun jatuh, huhuhuh how dare youuuu!! (ga teriak teriak kok, saya nangis doang hahaha) suami saya bilang, maaf ibu, tadi diajak sholat isya’ di masjid sama teman sekamar, ternyata pas Raudah buka, jadi kami mengantri ke raudah, kata suami. Saya pikir tidak akan makan waktu lama, ternyata pas jam 3 pas saya berada di depan raudah, dan kami sholat didalamnya katanya.. yang itu alhamdulillah, tapi maaf ibu karena keadaannya sangat ramai, saya tidak berhasil keluar untuk menjemputmu.

huhuhu tangis saya tambah deras, hiks hiks iriii sekaligus bersyukur suami bisa sholat di depan raudah, dan saya? kebingungan mencari dia dan harus pergi ke masjid tanpa dia.  Dan tiba-tiba seperti ada yang mengingatkan saya, pada kalimat dalam buku manasik haji, hey ibuuu, Sepertinya tadi kamu salah menaruh harap kepada suami yak, bukan pada Allah, maafkan hamba Allah, huhuuh saya tambah sedih. Tapi karena kejadian itu, saya bilang suami, sudah, kan kita sama-sama ingin beribadah pada Allah disini, dan tempat sholat di masjid nabawi dipisah antara laki-laki dan perempuan, jadi kita berangkatnya pisah-pisah saja yak, kata saya dan diiyakan oleh suami.

dan setelah itu sempat hampir dua hari saya tidak ketemu suami^^;  Ketika saya di hotel dan mencari dia, ternyata dia sedang di masjid dan sebaliknya ketika saya di masjid dia di hotel mencari saya, rinduuu sungguh tapi saya tahu(semoga kamupun tahu suamiku), kami menghadap arah yang sama, ingin sama-sama beribadah menggapai cinta dari Allah, dan kami pun yakin kami saling mencinta karena Allah juga, InshaAllah kalau Allah mengizinkan kami berjumpa, tanpa janjian pun kami bisa jumpa ya^^;

Kota Madinah sangat indah, ramah dan menyimpan banyak hal yang membuat saya semakin yakin, bahwa sejatinya manusia itu hidup adalah untuk beribadah kepada Allah, dan memohon pertolongan kepada Allah itu semata-mata adalah sarana agar kita tetap bisa melaksanakan ibadah kepada Allah.

Iyya kana’budu didahulukan dari wa iyya kanasta’in, karena ibadah kepada-Nya merupakan tujuan, sedangkan permohonan pertolongan merupakan sarana untuk beribadah. Yang terpenting lebih didahulukan dari yang sekedar penting.

wallahu’alam bisshowab